Rabu, 05 November 2014

Mengenang Paus Yohanes Paulus II, Ritapiret Gelar Seminar Nasional



Maumere, WN - Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret bekerja sama dengan Keuskupan Maumere menggelar seminar nasional, Sabtu (4/10/2014) pagi.
Seminar ini merupakan salah satu program untuk mengenang figur St. Paus Yohanes Paulus II yang pernah mengunjungi umat di Maumere dan menginap semalam di seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, 25 tahun silam (11-12 Oktober 1989).
Seminar yang dimulai tepat pukul 09.30 Wita itu mengusung tema utama "Globalisasi dan Vatikan sebagai Global Player di bawah Kepemimpinan John Paul II". Seminar  dimoderatori  Romo  Dr. Philip Ola Daen, Pr. Tampil sebagai pembicara adalah Dr. Norbertus Jegalus, MA dan Rm. Dr. Krispurwana Cahyadi, SJ.
Seminar yang berlangsung setengah hari di Aula St. Petrus Ritapiret,  ini dihadiri  para pastor, suster, frater, siswa/i SMA, mahasiswa, pegawai dan pemuka masyarakat. Hadir juga  Praeses Ritapiret, Rm. Ewal Sedu, Pr; Uskup Maumere, Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD, Ibu Lusia dari John Paul II Foundation Indonesia dan mantan Ketua Panitia Penerimaan Paus Yohanes Paulus II di Maumere,  yaitu Daniel Woda Pale.
Uskup Maumere,  Mgr. G Kherubim Pareira  mengapresiasi seminar tersebut. Kherubim  mengharapkan kaum muda mampu meneladani keutamaan Paus Yohanes Paulus II. Uskup Maumere juga menginformasikan bahwa Keuskupan Maumere akan mendatangkan Patung St. Yohanes Paulus II setinggi tiga meter akan ditempatkan di Keuskupan Maumere. Selain itu, acara puncak peringatan 25 tahun ini dilakukan di Santuarium Wisung Fatima, Lela.
Mengawali seminar dibacakan riwayat St. Paus Yohanes Paulus II. Sesudahnya  para pembicara mendalami tema umum dengan perspektif yang berbeda. Dr. Norbertus Jegalus, MA, mengulas sosok paus dengan judul makalah, "Gereja Katolik sebagai Global Player di bawah kepemimpinan John Paul II"  dari perspektif filsafat sosial. Sedangkan Dr. Krispurwana Cahyadi, SJ mengusung makalah  berjudul "Yohanes Paulus II: Pesan bagi Dunia" dari sisi analisa teologi.
Dr. Norbertus yang juga dosen filsafat Filsafat Agama Unwira-Kupang menyatakan, Paus Yohanes Paulus II merupakan "Paus Martabat Manusia." Alasannya, beberapa ensiklik dari St. Paus Yohanes Paulus II seperti Redemtor Hominis (1979), Laborem Exercens (1981), Sollicitudo Rei Socialis Ecclesiae (1987), Centesimus Annus (1991) dan Fides et Ratio (1998) berkaitan dengan etika global yang memiliki pijakan pada suatu paham dasar "Martabat manusia sebagai persona".
Paham dasar ini dapat dijabarkan bagi etika global, seperti pembelaan hak manusia, penolakan diskriminasi dalam bidang kehidupan, pembelaan demokrasi, pembentukan solidaritas internasional, dan usaha pencarian kebenaran dengan akal budi.
Dr. Nobertus yang juga alumni dari Geschwister-Scholl Intsitut für Politische Wissenschaft, Ludwig-Maximilians-Universität, München, Jerman (2008) ini menjelaskan,  Paus sebenarnya telah masuk ke dalam diskursus global tentang etika sosial umat manusia.
Beliau telah membuka Gereja bagi dunia dan siap berkomunikasi dengan semua pihak yang berkehendak baik. Gereja tidak dibawanya kepada eksklusivisme demi mempertahankan identitas diri Gereja melainkan kepada inklusivisme demi kejelasan  identitas Gereja  Katolik di tengah pluralitas nilai dan ajaran religius di era posmodern ini.
Paus sungguh sadar bahwa keterbukaan ajarannya sama sekali tidak mengancam identitas Gereja di tengah pluralisme dan arus globalisasi, melainkan justru semakin mempertegas posisi dan identitas Gereja di tengah dunia. Gereja mengajarkan nilai-nilai tidak saja bagi kaum kristen sendiri melainkan juga bagi umat manusia pada umumunya. Dengan cara itulah Paus Yohanes Paulus II memainkan peran Gereja Katolik sebagai Global Player di tengah arus globalisasi.
Pembicara kedua, Dr. Krispurwana Cahyadi, SJ menyatakan, Paus Yohanes Paulus II adalah tokoh dunia.  Karena dia mampu mendorong Gereja untuk hadir dalam kancah ruang dunia sehingga gereja dipandang sebagai kekuatan moral dunia dan bagai suara yang berseru-seru di tengah padang gurun kehidupan dunia.
Rm. Krispurwana melihat berbagai kenyataan hidup dalam perjuangan Paus yang bernama kecil "Lolek" ini sebagai sumbangan bagi gereja karena dia sangat intens mendorong dialog antara agama, serta menolak kekerasan dan mendorong perdamaian, menolak segala bentuk diskriminasi dan mendorong terwujudkan kehidupan yang adil. Sementara dalam pemikiran politik, Paus menyebutkan bahwa menjadi politisi adalah suatu panggilan. Panggilan tersebut adalah panggilan untuk melayani sesama.
Dia mengharapkan agar para politisi memiliki integritas pribadi, yang tercermin dalam kompetensi dalam keterlibatan dan moralitas diri yang solid, serta penggunaan kekuasaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pameran Buku
Seminar nasional yang dikemas 'santai' ini  membuat peserta seminar sangat antusias dan berpartisipasi penuh dalam prosesnya. Tembang melodi dan suara emas dari San Pedro Band dan pembacaan sajak dari kelompok minat Centro John Paul II Ritapiret turut mendukung menghidupkan suasana ruang seminar.
Sementara di luar aula, panitia bekerja sama dengan penerbit Ledalero dan TB Gramedia Maumere menggelar pameran buku. Para peserta seminari juga diberi kesempatan untuk mengunjungi situs kamar St. Yohanes Paulus II yang tepat berada di samping kanan Kapela Agung Ritapiret. Kamar ini menjadi ikon sejarah dan tempat ziarah rohani.
Sebagai sebuah tempat ziarah, kamar Paus akan diberkati pada tanggal 12 November 2014. Keseluruhan kegiatan ini di bawah tanggung jawab kepengurusan Fraters Ritapiret tahun ajaran 2014/2015.(ris)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar