Maumere, WN - Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret bekerja sama dengan
Keuskupan Maumere menggelar seminar nasional, Sabtu (4/10/2014) pagi.
Seminar ini merupakan salah satu program
untuk mengenang figur St. Paus Yohanes Paulus II yang pernah mengunjungi umat
di Maumere dan menginap semalam di seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, 25
tahun silam (11-12 Oktober 1989).
Seminar yang dimulai tepat pukul
09.30 Wita itu mengusung tema utama "Globalisasi dan Vatikan sebagai
Global Player di bawah Kepemimpinan John Paul II". Seminar
dimoderatori Romo Dr. Philip Ola Daen, Pr. Tampil sebagai pembicara
adalah Dr. Norbertus Jegalus, MA dan Rm. Dr. Krispurwana Cahyadi, SJ.
Seminar yang berlangsung setengah
hari di Aula St. Petrus Ritapiret, ini dihadiri para pastor,
suster, frater, siswa/i SMA, mahasiswa, pegawai dan pemuka masyarakat. Hadir
juga Praeses Ritapiret, Rm. Ewal Sedu, Pr; Uskup Maumere, Mgr. Gerulfus
Kherubim Pareira, SVD, Ibu Lusia dari John Paul II Foundation Indonesia dan
mantan Ketua Panitia Penerimaan Paus Yohanes Paulus II di Maumere, yaitu
Daniel Woda Pale.
Uskup Maumere, Mgr. G Kherubim
Pareira mengapresiasi seminar tersebut. Kherubim mengharapkan kaum
muda mampu meneladani keutamaan Paus Yohanes Paulus II. Uskup Maumere juga
menginformasikan bahwa Keuskupan Maumere akan mendatangkan Patung St. Yohanes
Paulus II setinggi tiga meter akan ditempatkan di Keuskupan Maumere. Selain
itu, acara puncak peringatan 25 tahun ini dilakukan di Santuarium Wisung
Fatima, Lela.
Mengawali seminar dibacakan riwayat
St. Paus Yohanes Paulus II. Sesudahnya para pembicara mendalami tema umum
dengan perspektif yang berbeda. Dr. Norbertus Jegalus, MA, mengulas sosok paus
dengan judul makalah, "Gereja Katolik sebagai Global Player di bawah
kepemimpinan John Paul II" dari perspektif filsafat sosial.
Sedangkan Dr. Krispurwana Cahyadi, SJ mengusung makalah berjudul
"Yohanes Paulus II: Pesan bagi Dunia" dari sisi analisa teologi.
Dr. Norbertus yang juga dosen filsafat Filsafat Agama Unwira-Kupang menyatakan, Paus Yohanes Paulus II merupakan "Paus Martabat Manusia." Alasannya, beberapa ensiklik dari St. Paus Yohanes Paulus II seperti Redemtor Hominis (1979), Laborem Exercens (1981), Sollicitudo Rei Socialis Ecclesiae (1987), Centesimus Annus (1991) dan Fides et Ratio (1998) berkaitan dengan etika global yang memiliki pijakan pada suatu paham dasar "Martabat manusia sebagai persona".
Dr. Norbertus yang juga dosen filsafat Filsafat Agama Unwira-Kupang menyatakan, Paus Yohanes Paulus II merupakan "Paus Martabat Manusia." Alasannya, beberapa ensiklik dari St. Paus Yohanes Paulus II seperti Redemtor Hominis (1979), Laborem Exercens (1981), Sollicitudo Rei Socialis Ecclesiae (1987), Centesimus Annus (1991) dan Fides et Ratio (1998) berkaitan dengan etika global yang memiliki pijakan pada suatu paham dasar "Martabat manusia sebagai persona".
Paham dasar ini dapat dijabarkan
bagi etika global, seperti pembelaan hak manusia, penolakan diskriminasi dalam
bidang kehidupan, pembelaan demokrasi, pembentukan solidaritas internasional,
dan usaha pencarian kebenaran dengan akal budi.
Dr. Nobertus yang juga alumni dari
Geschwister-Scholl Intsitut für Politische Wissenschaft,
Ludwig-Maximilians-Universität, München, Jerman (2008) ini menjelaskan,
Paus sebenarnya telah masuk ke dalam diskursus global tentang etika sosial umat
manusia.
Beliau telah membuka Gereja bagi
dunia dan siap berkomunikasi dengan semua pihak yang berkehendak baik. Gereja
tidak dibawanya kepada eksklusivisme demi mempertahankan identitas diri Gereja
melainkan kepada inklusivisme demi kejelasan identitas Gereja
Katolik di tengah pluralitas nilai dan ajaran religius di era posmodern ini.
Paus sungguh sadar bahwa keterbukaan
ajarannya sama sekali tidak mengancam identitas Gereja di tengah pluralisme dan
arus globalisasi, melainkan justru semakin mempertegas posisi dan identitas
Gereja di tengah dunia. Gereja mengajarkan nilai-nilai tidak saja bagi kaum
kristen sendiri melainkan juga bagi umat manusia pada umumunya. Dengan cara
itulah Paus Yohanes Paulus II memainkan peran Gereja Katolik sebagai Global
Player di tengah arus globalisasi.
Pembicara kedua, Dr. Krispurwana
Cahyadi, SJ menyatakan, Paus Yohanes Paulus II adalah tokoh dunia. Karena
dia mampu mendorong Gereja untuk hadir dalam kancah ruang dunia sehingga gereja
dipandang sebagai kekuatan moral dunia dan bagai suara yang berseru-seru di
tengah padang gurun kehidupan dunia.
Rm. Krispurwana melihat berbagai
kenyataan hidup dalam perjuangan Paus yang bernama kecil "Lolek" ini
sebagai sumbangan bagi gereja karena dia sangat intens mendorong dialog antara
agama, serta menolak kekerasan dan mendorong perdamaian, menolak segala bentuk
diskriminasi dan mendorong terwujudkan kehidupan yang adil. Sementara dalam
pemikiran politik, Paus menyebutkan bahwa menjadi politisi adalah suatu
panggilan. Panggilan tersebut adalah panggilan untuk melayani sesama.
Dia mengharapkan agar para politisi
memiliki integritas pribadi, yang tercermin dalam kompetensi dalam keterlibatan
dan moralitas diri yang solid, serta penggunaan kekuasaan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Pameran Buku
Seminar nasional yang dikemas
'santai' ini membuat peserta seminar sangat antusias dan berpartisipasi
penuh dalam prosesnya. Tembang melodi dan suara emas dari San Pedro Band dan
pembacaan sajak dari kelompok minat Centro John Paul II Ritapiret turut
mendukung menghidupkan suasana ruang seminar.
Sementara di luar aula, panitia
bekerja sama dengan penerbit Ledalero dan TB Gramedia Maumere menggelar pameran
buku. Para peserta seminari juga diberi kesempatan untuk mengunjungi situs
kamar St. Yohanes Paulus II yang tepat berada di samping kanan Kapela Agung
Ritapiret. Kamar ini menjadi ikon sejarah dan tempat ziarah rohani.
Sebagai sebuah tempat ziarah, kamar
Paus akan diberkati pada tanggal 12 November 2014. Keseluruhan kegiatan ini di
bawah tanggung jawab kepengurusan Fraters Ritapiret tahun ajaran
2014/2015.(ris)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar