Rabu, 05 November 2014

Bang Yos : Anggap Koalisi Jokowi Hanya Sekumpulan Orang Bodoh?




Jakarta, WN - Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI),Sutiyoso mengaku perihatin dengan kondisi parlemen Indonesia saat ini. Terlebih dengan adanya DPR tandingan yang dibentuk oleh Koalisi Indonesia Hebat (KIH).
Menurut Sutiyono, DPR tandingan yang dibentuk koalisi pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakann wujud ketidakpuasan dan akan menghambat kerja DPR.

"Seharusnya ini tidak perlu terjadi, kita yang selama ini menganut paham Pancasila seperti enggak ada lagi, namanya musyawarah mufakat harusnya menyelesaikan permasalahan tapi tidak ada lagi," ujarnya, Minggu (1/11/2014).

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut menambahkan, semestinya DPR berperan aktif melaksanakan kontrol dari eksekutif, tapi dengan adanya mosi ketidakpuasaan dan membuat DPR tandingan malah membuat fungsi kontrol legislatif terhadap eksekutif melemah.

"Jadi DPR tandingan tidak perlu. Kalau seperti ini seperti bangsa apa? Karena telah meninggalkan jadi diri kita," tegasnya pria yang turut mendukung Jokowi sebagai Presiden ini.

Bang Yos, sapaan akrabnya justru melihat KIH tidak mengerti pada Undang-Undang (UU) dengan membuat DPR tandingan, karena padahal pimpinan DPR dari Koalisi Merah Putih (KM) telah disahkan oleh Mahkamah Agung (MA).

"Mungkin Koalisi Indonesia Hebat sudah tidak paham lagi terhadap udang-undang," tambahnya.

Dia berharap para petinggi KIH dan KMP bisa duduk bersama dan mencari solusi atas dualisme parlemen sebelum perbedaan semakin berkepanjangan. Khawatir jika berlarut malah akan menganggu sistem ketatanegaraan di Indonesia.

"Cobalah pentolan-pentolan atara koalisi duduk bicara bagaimana diatur yang baik, dengan cara bijaksana dengan penuh pengertian dan ini sebenarnya budaya kita," tuntasnya.

Diketahui, pembentukan DPR tandingan digulirkan oleh fraksi pendukung Jokowi, karena merasa aspirasinya tidak diakomodir oleh KMP terutama dalam pembagian jatah pimpinan alat kelengkapan dewan dan badan.KIH merupakan koalisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Nasional Demokrat (NasDem) Partai Hati Nurani Rakyat. (sumber : suaranews.com)

Mengenang Paus Yohanes Paulus II, Ritapiret Gelar Seminar Nasional



Maumere, WN - Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret bekerja sama dengan Keuskupan Maumere menggelar seminar nasional, Sabtu (4/10/2014) pagi.
Seminar ini merupakan salah satu program untuk mengenang figur St. Paus Yohanes Paulus II yang pernah mengunjungi umat di Maumere dan menginap semalam di seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, 25 tahun silam (11-12 Oktober 1989).
Seminar yang dimulai tepat pukul 09.30 Wita itu mengusung tema utama "Globalisasi dan Vatikan sebagai Global Player di bawah Kepemimpinan John Paul II". Seminar  dimoderatori  Romo  Dr. Philip Ola Daen, Pr. Tampil sebagai pembicara adalah Dr. Norbertus Jegalus, MA dan Rm. Dr. Krispurwana Cahyadi, SJ.
Seminar yang berlangsung setengah hari di Aula St. Petrus Ritapiret,  ini dihadiri  para pastor, suster, frater, siswa/i SMA, mahasiswa, pegawai dan pemuka masyarakat. Hadir juga  Praeses Ritapiret, Rm. Ewal Sedu, Pr; Uskup Maumere, Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD, Ibu Lusia dari John Paul II Foundation Indonesia dan mantan Ketua Panitia Penerimaan Paus Yohanes Paulus II di Maumere,  yaitu Daniel Woda Pale.
Uskup Maumere,  Mgr. G Kherubim Pareira  mengapresiasi seminar tersebut. Kherubim  mengharapkan kaum muda mampu meneladani keutamaan Paus Yohanes Paulus II. Uskup Maumere juga menginformasikan bahwa Keuskupan Maumere akan mendatangkan Patung St. Yohanes Paulus II setinggi tiga meter akan ditempatkan di Keuskupan Maumere. Selain itu, acara puncak peringatan 25 tahun ini dilakukan di Santuarium Wisung Fatima, Lela.
Mengawali seminar dibacakan riwayat St. Paus Yohanes Paulus II. Sesudahnya  para pembicara mendalami tema umum dengan perspektif yang berbeda. Dr. Norbertus Jegalus, MA, mengulas sosok paus dengan judul makalah, "Gereja Katolik sebagai Global Player di bawah kepemimpinan John Paul II"  dari perspektif filsafat sosial. Sedangkan Dr. Krispurwana Cahyadi, SJ mengusung makalah  berjudul "Yohanes Paulus II: Pesan bagi Dunia" dari sisi analisa teologi.
Dr. Norbertus yang juga dosen filsafat Filsafat Agama Unwira-Kupang menyatakan, Paus Yohanes Paulus II merupakan "Paus Martabat Manusia." Alasannya, beberapa ensiklik dari St. Paus Yohanes Paulus II seperti Redemtor Hominis (1979), Laborem Exercens (1981), Sollicitudo Rei Socialis Ecclesiae (1987), Centesimus Annus (1991) dan Fides et Ratio (1998) berkaitan dengan etika global yang memiliki pijakan pada suatu paham dasar "Martabat manusia sebagai persona".
Paham dasar ini dapat dijabarkan bagi etika global, seperti pembelaan hak manusia, penolakan diskriminasi dalam bidang kehidupan, pembelaan demokrasi, pembentukan solidaritas internasional, dan usaha pencarian kebenaran dengan akal budi.
Dr. Nobertus yang juga alumni dari Geschwister-Scholl Intsitut für Politische Wissenschaft, Ludwig-Maximilians-Universität, München, Jerman (2008) ini menjelaskan,  Paus sebenarnya telah masuk ke dalam diskursus global tentang etika sosial umat manusia.
Beliau telah membuka Gereja bagi dunia dan siap berkomunikasi dengan semua pihak yang berkehendak baik. Gereja tidak dibawanya kepada eksklusivisme demi mempertahankan identitas diri Gereja melainkan kepada inklusivisme demi kejelasan  identitas Gereja  Katolik di tengah pluralitas nilai dan ajaran religius di era posmodern ini.
Paus sungguh sadar bahwa keterbukaan ajarannya sama sekali tidak mengancam identitas Gereja di tengah pluralisme dan arus globalisasi, melainkan justru semakin mempertegas posisi dan identitas Gereja di tengah dunia. Gereja mengajarkan nilai-nilai tidak saja bagi kaum kristen sendiri melainkan juga bagi umat manusia pada umumunya. Dengan cara itulah Paus Yohanes Paulus II memainkan peran Gereja Katolik sebagai Global Player di tengah arus globalisasi.
Pembicara kedua, Dr. Krispurwana Cahyadi, SJ menyatakan, Paus Yohanes Paulus II adalah tokoh dunia.  Karena dia mampu mendorong Gereja untuk hadir dalam kancah ruang dunia sehingga gereja dipandang sebagai kekuatan moral dunia dan bagai suara yang berseru-seru di tengah padang gurun kehidupan dunia.
Rm. Krispurwana melihat berbagai kenyataan hidup dalam perjuangan Paus yang bernama kecil "Lolek" ini sebagai sumbangan bagi gereja karena dia sangat intens mendorong dialog antara agama, serta menolak kekerasan dan mendorong perdamaian, menolak segala bentuk diskriminasi dan mendorong terwujudkan kehidupan yang adil. Sementara dalam pemikiran politik, Paus menyebutkan bahwa menjadi politisi adalah suatu panggilan. Panggilan tersebut adalah panggilan untuk melayani sesama.
Dia mengharapkan agar para politisi memiliki integritas pribadi, yang tercermin dalam kompetensi dalam keterlibatan dan moralitas diri yang solid, serta penggunaan kekuasaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pameran Buku
Seminar nasional yang dikemas 'santai' ini  membuat peserta seminar sangat antusias dan berpartisipasi penuh dalam prosesnya. Tembang melodi dan suara emas dari San Pedro Band dan pembacaan sajak dari kelompok minat Centro John Paul II Ritapiret turut mendukung menghidupkan suasana ruang seminar.
Sementara di luar aula, panitia bekerja sama dengan penerbit Ledalero dan TB Gramedia Maumere menggelar pameran buku. Para peserta seminari juga diberi kesempatan untuk mengunjungi situs kamar St. Yohanes Paulus II yang tepat berada di samping kanan Kapela Agung Ritapiret. Kamar ini menjadi ikon sejarah dan tempat ziarah rohani.
Sebagai sebuah tempat ziarah, kamar Paus akan diberkati pada tanggal 12 November 2014. Keseluruhan kegiatan ini di bawah tanggung jawab kepengurusan Fraters Ritapiret tahun ajaran 2014/2015.(ris)

25 Tahun Gereja Reformed Injili Indonesia



Jakarta, WN - Seperempat abad keberadaan Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) diperingati dengan Kebaktian Ucap Syukur yang dipimpin oleh Pdt Dr Stephen Tong, Minggu (2/11).
Kebaktian di Reformed Millenium Cathedral Indonesia (RMCI) Kemayoran, Jakarta Pusat ini, dihadiri jemaat yang datang dari Jabodetabek. Hadir pada peringatan 25 tahun GRII, Pjs Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama.
"Para pemimpin harus takut akan Tuhan dan mencintai rakyat," kata Stephen ketika ditanya mengenai pesan apa untuk Indonesia masa kini.
GRII tak lepas dari Dr Stephen Tong sang pendiri. Pada kesempatan itu, Stephen Tong menyampaikan, dalam perjalanan pelayanan sebagai penginjil untuk menyuarakan kebenaran, tidak sedikit yang menentang.
Pencarian kebenaran oleh manusia sudah ada sejak lama. Maka dikenal nama-nama filsuf kondang di belahan Eropa. Pun di Asia juga muncul fenomena yang sama. Namun kebenaran kekal hanya ia temukan pada Yesus, Sang Jalan Kebenaran. Iman seperti itulah yang membekali Stephen Tong untuk terus giat menyuarakan kebenaran sehingga dapat melalui beraneka hambatan.
Dalam kotbahnya berbahasa Mandarin yang diterjamahkan dalam bahasa Indonesia itu, pria kelahiran Xiamen Tiongkok 1940 ini, juga menyinggung pemimpin pemerintahan yang dituntut menyuarakan kebenaran.
Stephen Tong yang juga piawai sebagai komposer dan konduktor ini mempunyai perhatian khusus pada Reformed Theology. Ia menjadi dosen sejak 1964 dan pembicara di berbagai seminar baik di dalam negeri maupun manca negara. Pada tahun 1984 menggelar seminar akbar yakni Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) di Jakarta yang memelopori doktrin reformed. Semakin lama semakin banyak pesertanya.
Ia juga mendirikan Sekolah Teologi. Maka berdiri Sekolah Teologi Reformed Injili (STRI) di Surabaya (1986), di Jakarta (1987), dan menyusul di Malang (1990). GRII berdiri guna memfasilitasi kebutuhan bersekutu mereka yang tergabung dalam gerakan reformed.
Pada acara ucap syukur peringatan tersebut, digelar pula wisuda magister teologia Sekolah Tinggi Teologi Injili Internasional. Terdapat 27 wisudawan pada wisuda yang ke-7 ini. Acara ditutup konser orkestra Simfonia Jakarta.

Polisi Jangan Tergesa-gesa, Menyingkirkan Kayu Dibui

Wonosari, WN - Kasus hukum yang menimpa Harso Taruno (67), petani asal Desa Kepek, Kecamatan Saptosati, Gunungkidul, dijadikan tersangka atas kasus dugaan pencurian kayu jati, mengundang reaksi Jogja Police Watch (JPW).
JPW meminta agar Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan Mabes Polri turun tangan dalam kasus tersebut. Aktivis JPW Baharudin Kamba menilai penahanan terhadap Harso merupakan tindakan yang tergesa-gesa dan terkesan arogan. Dalam penanganan kasus, kepolisian seharusnya berpegang kepada asas kehati-hatian dan kecermatan.
“Salahnya di mana? Apakah unsur-unsur yang dituduhkan sesuai pasal  12 C Undang-undang No. 18/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan sudah memenuhi atau belum? Harusnya, sebelum melakukan penahanan dilakukan pencermatan terlebih dahulu” ungkap Kamba kepada Harianjogja.com, Rabu (22/10/2014).
Menurut Kamba, kasus ini harus mendapat perhatian serius dari Kompolnas maupun Mabes Polri. Malahan, dia meminta kedua institusi tersebut turun tangan. Tujuannya, untuk mengetahui persoalan tersebut lebih transparan.
“Dia [Harso] ditetapkan sebagai tersangka karena dituduh  merusak hutan milik negara. Terus, bagaimana dengan kasus penganiayaan terhadap pelajar almarhum Rezza? Padahal kasus itu juga benar-benar terjadi,” sindirnya.
Dia berpendapat kriminalisasi terhadap Harso terjadi karena sosialisasi keberadaan undang-undang minim. Dampaknya, banyak warga yang belum mengerti dan memahami tentang isi dari aturan UU tersebut.
“Benarkah sudah ada sosialisasi? Kalau sudah, kapan? Saya berharap sosialisasi itu terus dilakukan, sehingga kasus yang menimpa Mbah Harso tidak terulang lagi,” tegas Kamba.
Terpisah, Kepala Kantor Bagian Daerah Hutan Menggoran, Parjio mengaku pihaknya  belum mendengar kasus yang dialami Harso, sehingga belum bisa berkomentar lebih jauh.
Menurut dia, informasi belum sampai karena wilayah yang menjadi objek permasalahan berada di bawah naungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)  Paliyan.
“Kalau berada di wilayah kami, pasti saya sudah mendapatkan informasi itu,” kata Parjio.