Rabu, 05 November 2014

Suara Jurnalisme Warga




Jember, WN - Kita sudah sama-sama mengetahui kalau jurnalisme warga itu adalah bentuk komunikasi verbal dan non verbal yang sampai kepada komunikan-komunitas melalui beragam media, baik cetak maupun elektronik. Namun kemudian masih banyak orang yang lalu mengajukan pertanyaan, “Kalau saya sudah menjadi citizen journalist/seorang Jurnalis Warga, lalu apa yang sebaiknya saya tulis, saya wartakan ?, karena saya takut seperti Prita Mulyasari, baru mengeluh sedikit saja di milis, terpublikasi di internet, tahu-tahu terjerat UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), dipenjara pula, padahal niatnya hanya mewartakan apes yang dialaminya”. 

Saudara pembaca, citizen journalism atau jurnalisme warga ini sekali lagi adalah alamiah dan ilmiah sifatnya. Alamiah karena merupakan dorongan Hak Asasi Manusia untuk bersuara, menyuarakan apa yang dialaminya, apa yang dilihatnya. Ilmiah karena secara sadar atau tidak, citizen journalist telah menerapkan ilmu komunikasi.

Siapa saja tidak dilarang atau dihambat untuk menyalurkan hak asasi manusia miliknya yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa dorongan berkomunikasi. Memang ada etika dan tata cara komunikasi, namun ini adalah amat relatif dan bahkan norma berkomunikasi adalah berbeda dalam setiap suku bangsa dan puak-puak yang mendiami bumi ini.

Tapi yang saya ingin kemukakan adalah bagi kita yang suka menapaki jalan jurnalis warga, memiliki dorongan yang kuat untuk menuliskan warta berita bagi orang banyak, maka tidak perlu anda resah apa topik yang akan kita tulis.

Setiap jurnalis warga dapat menulis apa saja yang dialaminya, misalnya seperti saat sekarang ini ada banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Jika kita kebetulan adalah pewarta warga yang tinggal di lokasi banjir tersebut, kita bisa menulis tentang apa saja yang masyarakat rasakan, masyarakat butuhkan dalam situasi banjir seperti ini. Saya pernah mengadakan pelatihan menulis, ketika seorang peserta mencari topik yang tidak dikuasainya maka dia akan macet untuk menulis, tapi ketika dia saya minta untuk menuliskan peristiwa luar biasa yang pernah dialaminya, maka dia lancar sekali menuliskannya, menceritakannya dalam tulisan seperti halnya berbicara scara verbal. Intinya jika peristiwa itu di depan mata kita, kita alami, maka menulispun tanpa terasa kita bisa menyalurkan prinsip Harold Lasswell 5W- 1H. Tidak perlu kita khawatir tidak dapat menulis. Apalagi jika menulis peristiwa untuk situs jurnalis  warga, di setiap situs jurnalis warga manapun, biasanya digawangi oleh korektor bahasa sebagai admin-nya.

Seorang jurnalis warga tidak perlu menunggu reporter televisi untuk datang ke lokasi banjir itu untuk memberitakan, barulah bantuan datang. Tidak, citizen reporter atau citizen journalist ( jurnalis warga) dapat secara langsung mengabarkan apa yang dirasakan, dialami dan dibutuhkan oleh masyarakat, komunitas di sekitarnya.

Jika kita seorang warga desa yang baru saja terkena gusur secara sewenang-wenang, maka kita bisa langsung menuliskannya untuk diunggah dalam jejaring sosial kita, atau dalam media yang menyediakan ruang jurnalisme warga. Takut karena keselamatan terancam ?, kita bisa mengirim email pribadi kepada organisasi yang menaungi para Jurnalis Warga misal. AJWI dan lain - lain atau kepada media massa mana saja untuk meliputnya, atau bila kita masih ragu, maka kita dapat merekam peristiwa itu dan kita segera unggah ke youtube dengan nama samaran.

Tapi sekarang ini sepanjang saya pernah bekerja media masa konvensional di Pulau Jawa, masyarakat sudah sadar dan berani mengunjungi kantor redaksi untuk menceritakan warta bila ada ketidak-adilan di desanya. Kegiatan mengunjungi kantor redaksi ini terjadi bila tidak ada seoarang pun warga desa yang mampu mengunggah warta di internet melalui media sosial, atau cj web (citizen journalist-web). Tapi bila di luar Pulau Jawa, memang terjadi banyak kendala bagi warga untuk mengabarkan sebuah tragedi atau ketidak-adilan atau peristiwa penting di desanya.

Tragedi Mesuji bisa sampai teredam dan terendam selama tiga bulan lamanya sebelum naik ke permukaan. Untungnya ada warga yang melakukan kegiatan citizen journalist dengan merekam dengan kamera hand phone dan menyebarkannya secara terus bergulir, dan secara alamiah sampai sekarang seluruh Indonesia tahu. Sekarang ini bukan era orde baru, di mana pembantaian satu desa tidak akan mungkin terungkap oleh siapapun, karena saking takutnya orang untuk bersuara, ada guyonan, candaan : “Kalau mau ke dokter gigi di Singapura saja, karena di negara itu bebas buka mulut”.

Yah, dan memang jaman dulu itu tak ada jurnalisme warga, boro-boro, bikin media konvensional saja sulitnya luar biasa, dan bila kita bukan siapa-siapa, ya hanya mimpi saja punya media massa. Kini tidak, untungnya dan akhirnya, kita benar-benar bisa bersuara di media massa, meskipun ada UU ITE yang bisa digunakan untuk menjerat suara di ranah cyber-media. Tapi kalau yang bersuara banyak, -atau sendiri sekalipun- tapi mantap dalam menyuarakan aspirasi yang hakiki, maka argumentasi hukum demi kebenaran dan keadilan bisa dikemukakan dalam pengadilan untuk memperoleh keadilan.

Topik untuk kegiatan jurnalis warga memang idealnya tidak perlu susah-susah diburu, tidak perlu dicari secara susah payah seperti halnya topik untuk liputan wartawan reguler. Wartawan reguler dalam tuntutan kerjanya berbeda dengan jurnalis warga, karena dalam tuntutan pekerjaannya, secara profesional wartawan reguler dibayar, wartawan reguler dibebani oleh keharusan meliput berita berdasarkan desk liputannya. Namun jurnalis warga menyuarakan suaranya, berdasarkan hak asasi manusia miliknya, yakni mengemukakan aspirasi, dan menyuarakan aspirasi komunitasnya untuk mewartakan apa saja yang dirasakan oleh panca inderanya. Inilah kekhususan jurnalisme warga, maka itu topik jurnalisme warga bisa saja seperti ini misalnya :

-“ Kami ingin agara polusi dari pabrik tak mencemari desa kami : atau “Desa ‘ini’ tercemar berat polusi ”

-“ Kami ingin agar kemaksiatan tidak ada di lingkungan kami, dll”

-“ Warga wilayah ‘tertentu’ membutuhkan bantuan akibat bencana”

-“ Bantuan belum dirasakan oleh warga wilayah ‘tertentu’ padahal sudah ada penggalangan dana secara nasional,” dll “

Dan berbagai macam topik yang kita mampu menyuarakannya, secara tulisan maupun siaran audio visual. Warta kita tentu harus didukung oleh bukti dan fakta yang ada apa adanya.
 Di Indonesia karena tingkat pendidikan yang cenderung masih rendah, maka berkembangnya jurnalisme warga membutuhkan waktu yang lama, mungkin -bila tidak ada aral melintang- bisa sampai 10 tahun baru orang bisa biasa dengan jurnalisme warga.

Di Amerika dan Eropa sebagai Negara Dunia Pertama yang telah lebih lama merdeka, aktivitas jurnalis warga kini telah berkembang dengan pesat dan baik, ada fenomena “we media/media kita” atau bahkan “I media/ media saya”. Contohnya seorang yang bernama Kevin Sites yang pergi ke berbagai tempat konflik (hot zone) yang berbahaya di seluruh dunia dengan modal back packers, kamera dan laptop, seorang solo jurnalis yang tidak tergabung dalam grup media raksasa, untuk mewartakan apa saja yang terjadi di lokasi konflik berrbahaya tersebut.

Di Indonesia, contohnya kasus Mesuji, warga membutuhkan waktu hingga tiga sampai empat bulan untuk menyampaikan peristiwa penembakan petani sawit plasma, warga kepada media massa konvensional. Bila hal serupa terjadi di Amerika maka hanya dalam hitungan menit, berita ini telah sampai seluruh negara bagian, dan dalam hitungan jam berita seperti Mesuji, -seperti kasus sekte David Koresh di Waco, Texas Amerika yang diserbu tentara federal mengakibatkan tewasnya anggota komunitas itu- sampai mendunia.

Tapi semoga dengan seiring berkembangnya waktu, kita paraurnalis Warga Indonesia dapat secara alamiah mengeluarkan aspirasi kita, warta penting kita bagi komunitas masyarakat kita, bagi Negara kita, sebagai kesadaran hak asasi manusia yang telah kita sandang semenjak kita lahir.

Dalam Teori Komunikasi Massa oleh Dennis Mc Quail (2008) dijelaskan bahwa “public interest atau kepentingan publik, dapat dikomunikasikan oleh media massa konvensional sebagai agensi informasi dan oleh publik itu sendiri yang membuat  medianya, membuat net work medianya, sebagai konsekuensi logis berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi”.


Jurnalisme Warga / Citizen Journalism tentu saja sah menggunakan media sosial jenis apa saja (konvergensi media). Kita hidup sekarang ini seperti apa yang dikatakan Dennis Mc Quail dalam : ”Mass Communication Theory" (2008) sebagai “Global Communication Village”atau sebuah desa komunikasi global. (*)

Mung Pujanarko : Menempuh Thesis Jurnalistik di  IISIP Jakarta.

Sebut Subsidi BBM Bikin Rakyat Malas, Sudirman Said Dikritik



Jakarta, WN -PERNYATAAN Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, bahwa kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan menyejahterakan rakyat serta subsidi menyebabkan kemalasan rakyat, dikritisi oleh sejumlah pihak.
 
Menurut ahli ekonomi-politik dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Yudhie Haryono, pernyataan tersebut sangat antikonstitusi.

Kata Yudhie, Sudirman Said harus mengingat bahwa seorang pejabat negara disumpah dengan kitab suci untuk menjalankan konstitusi. Sementara, di dalam konstitusi jelas disebut bahwa tugas negara adalah memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Karena itu pengelolaan BBM sebagai bagian dari 'bumi air dan SDA dikuasai dan dimiliki negara dan diperuntukkan bagi kemakmuran rakyat', haruslah berpijak pada konstitusi.

"Bukan kepada mekanisme pasar. Ingat, bernegara adalah berkonstitusi, bukan tunduk pada pasar apalagi ideologi selain Pancasila. Karenanya, perekonomian harus berdasar pada demokrasi ekonomi. Bukan atas oligarki dan kartel," tegas Yudhie, di Jakarta, Senin (3/11).

Menurutnya, menyerahkan harga BBM ke pasar tanpa melihat problem utama; semisal kepemilikan asing, kebocoran diinisiasi mafia, dan korupsi kartel adalah mengkhianati konstitusi. Karena itu, mestinya menteri ESDM tahu bagaimana mengatasi problem subtansial lewat mekanisme konstitusional sebelum menawarkan solusi jangka pendek yang menguntungkan sedikit orang dan merugikan banyak warga negara.

Dia melanjutkan, bila Sudirman Said menyebut rakyat malas, tentu saja sangat tidak etis. Sebagai pejabat mestinya punya etika figur publik.

"Sebagai figur publik maka kalimat yang keluar dari mulutnya adalah motivasi dan solusi dari problem besar mereka. Ini penting dalam rangka mengukuhkan mental revolusioner seperti yang digagas presiden. Rakyat harus diberi contoh bagaimana menjadi masyarakat Pancasilais yang solutif, bukan diberi label dan gelar-gelar yang melecehkan," jelasnya.

Lebih jauh, dia menilai hendaknya sebagai pembantu presiden, seorang mentri memberi beberapa pilihan kebijakan, dan bukan menjebak dalam satu solusi seolah-olah tak ada solusi lain yang lebih manusiawi, akuntabel, dan konstitusional.

"Panggil dan dengar para pakar yang mengerti konstitusi dan ekonomi. Lalu buat beberapa opsi. Jangan jebak presiden dalam lingkaran setan yang juga menyesatkan rakyat," kata Yudhie yang termasuk salah satu pendiri Partai Amanat Nasional dan pengajar awal di Universitas Paramadina itu.

"Anda sebagai menteri pembantu presiden janganlah tunduk pada bos selain bos Anda. Bos Anda presiden maka berilah pilihan-pilihan rasional dalam kebijakan yang patuh pada konstitusi."
Penulis: Markus Junianto Sihaloho/EPR

Muharram Momentum Hijrah Menjadi Pribadi Lebih Baik



Serdang Bedagai, WN - Ribuan masyarakat Serdang Bedagai (Sergai) tumpah ruah hadir pada acara Gebyar 1 Muharram 1436 H. Kegiatan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Sergai bekerjasama dengan Persatuan Remaja Mesjid Attahiriyyah (Permata) bertempat di lapangan Bola Kaki Kelurahan Melati Kebun Kecamatan Pegajahan, Selasa Malam (4/11).

Bupati Sergai Ir. H. Soekirman tengah memberikan sambutan

Acara yang diawali dengan lantunan lagu-lagu rohani dan pembacaan ayat suci al-qur’an ini turut dihadiri oleh Bupati Sergai Ir. H. Soekirman, Ketua Sementara DPRD H. Sahlan Siregar, Sekdakab Drs. H. Haris Fadillah, M.Si, Ketua TP.PKK Hj. Marliah Soekirman, Ketua DWP Hj. Imas Haris Fadillah, Asisten Ekbangsos Drs. Hadi Winarno MM, Para Kepala SKPD, Ketua FKUB Drs. Irfan El Fuadi Lubis, para Camat dan Ketua TP.PKK Kecamatan se-Sergai, Ketua MUI H. Lukman Yahya, Manager Kelurahan Melati Kebun, serta penceramah Ustadz Sulaiman.

Bupati Sergai Ir. H. Soekirman dalam sambutannya memberikan apresiasi yang setingi-tingginya kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras sehingga terlaksananya acara yang begitu meriah dengan dihadirinya masyarakat yang begitu antusias menyambut peringatan hari besar umat islam.

Selanjutnya Bupati Soekirman mengatakan Peringatan Tahun Baru Islam 1436 H ini bisa membawa kesadaran masyarakat terhadap makna sesungguhnya yang tidak terlepas dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Peringatan tahun ini juga diharapkan bisa mengubah prilaku masyarakat kearah yang lebih baik, oleh karena itu Bupati mengajak seluruh masyarakat kaum muslim untuk merancang hidup agar lebih baik dengan hijrah, yakni hijrah dari mental yang buruk ke yang lebih baik, kemudian mengubah perilaku buruk menjadi lebih baik serta selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Mari kita memaknai pergantian tahun ini dengan mengubah ketidakpedulian terhadap kaum lemah dengan semangat zakat, infaq dan sedekah, mengubah hidup bermalas-malasan, ungkap Bupati.

Di akhir sambutannya Bupati berpesan kepada seluruh masyarakat Sergai bahwa mari sama-sama kita jadikan semangat Tahun Baru Hijariah ini untuk menginstropeksi diri, mengambil pelajaran yang berharga dan berusaha memperbaiki sisi buruk dari kehidupan kita sebelumnya. Semoga dengan semangat ini kita dapat menerapkan konsep hijrah dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi insan yang selalu lebih baik, pungkas Bupati Soekirman.

Bupati Sergai Ir. H. Soekirman didampingi Sekdakab Drs.
H. Haris Fadillah M.Si, Ketua Sementara DPRD H. Sahlan Siregar, Asisten
Ekbangsos Drs. Hadi Winarno MM, Kepala SKPD, Camat Pegajahan Drs. Zulfikar
photo bersama dengan para pemenang perlombaan pada Gebyar Tahun Baru Islam
1 Muharram 1436 H

Acara dilanjutkan dengan Tausyiah oleh Ustadz Sulaiman yang mengupas tentang hijrahnya Nabi Besar Muhammad SAW dan diakhiri dengan penyerahan Trophy kepada seluruh pemenang perlombaan dalam menyambut 1 Muharram 1436 H. (Khairulaswad)

BPK Provinsi Jawa Barat Periksa PDAM Tirta Pakuan

Bogor, WN - Setelah BPK Provinsi Jawa Barat menginventarisir data PDAM Tirta Pakuan selama 30 hari, hari ini (9/10) BPK Provinsi Jawa Barat melaksanakan ekspose hasil inventarisir PDAM Tirta Pakuan terkait pelayanan air bersih di Kota Bogor.

Ekspose dilaksanakan di ruang rapat III Balaikota Bogor, dihadiri Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman, Direktur PDAM Tirta Pakuan Untung Kurniadi, perwakilan dari Bappeda, BPKAD dan Inspektorat juga turut hadir.

Herni dari BPK Provinsi Jawa Barat menjelaskan maksud dilaksanakannya pemeriksaan kinerja terinci penyediaan air bersih di Kota Bogor. Tantangan utama penyediaan air bersih adalah meningkatnya kebutuhan air bersih ditengah semakin berkurangnya sumber daya air yang ada.

“Selain itu target RPJMN 2010-2014 jumlah penduduk yang memiliki akses sumber air bersih sebesar 67%, dan target tahun 2015 akses air minum terlindungi 68,87% diantaranya 41,03% merupakan air minum perpipaan,” jelas Herni. 

Tujuan dari pemeriksaan kinerja terinci penyediaan air bersih di Kota Bogor adalah untuk menilai pencapaian target Pemerintah Kota Bogor dalam penyediaan air bersih melalui PDAM yang bisa dicapai melalui Better Management Practice meliputi kebijakan dan perencanaan penyediaan air bersih, kelembagaan dan tata laksana sumber daya penyediaan air bersih, pelaksanaan praktik bisnis yang baik dalam penyediaan air bersih oleh PDAM Tirta Pakuan dan monitoring dan evaluasi penyediaan air bersih, papar Herni lebih lanjut.
Wakil Walikota Bogor, Usmar Hariman menyambut baik pemeriksaan kinerja terinci penyediaan air bersih di Kota Bogor. 

“Diharapkan PDAM Tirta Pakuan dan SKPD terkait bisa menyediakan data-data yang dibutuhkan dalam pemeriksaan yang lebih terinci melalui program Better Management Practice dan juga BPK Provinsi Jawa Barat dapat memberikan rekomendasi yang bisa memperbaiki kinerja operator penyedia air bersih lebih baik lagi dalam pemeriksaan tahap kedua yang akan berlangsung selama 30 hari kedepan,” jelas Usmar.

Selain itu diharapkan sesuai program dunia MDGs ditahun 2015 penyediaan air bersih untuk seluruh masyarakat bisa dicapai dan PDAM Tirta Pakuan bisa betul betul mandiri dan bisa mengelola manajemennya dengan baik dan benar sehingga menjadi perusahaan daerah yang sehat dan kontribusinya dapat dinikmati masyarakat Kota Bogor harap Usmar.

Disampaikan pula dalam rapat itu, pemerintah daerah juga berperan penting dalam pencapaian target penyediaan air bersih bagi masyarakat Kota Bogor, oleh karenanya diperlukan kerjasama antara Pemerintah Kota Bogor dengan BPK Provinsi Jawa Barat dalam pemeriksaan kinerja ini.

Peranan Pemkot Bogor dalam hal ini dapat terlihat mulai dari kebijakan dan perencanaan penyediaan air telah memadai, kebijakan terkait penyediaan air bersih perpipaan juga harus memadai. Selain itu, Pemkot Bogor juga telah mendukung pengembangan organisasi PDAM. Dalam kriteria akhir Pemkot melakukan monitoring dan evaluasi secara memadai atas kegiatan penyediaan air bersih. Dengan menjalankan kriteria-kriteria tersebut, diharapkan target 2015 yaitu akses air minum terlindungi 68,87% dapat tercapai. (Wanto/Rozi)

Kepala Sekolah SDN KadungMangu 3 Diduga Larikan Dana Koperasi


Bogor,WN - Sekolah Dasar Negeri ( SDN ) Kadung Mangu 3 Desa Kadung Mangu Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor , tercoreng namanya karena ulah yang sangat berlebihan dari seorang Kepala Sekolahnya yang telah larikan dana Koperasi hingga kini belum kelihatan menampakkan diri di Kantor SDN Kadung Mangu tersebut. Sehingga beberapa guru yang tergabung di Koperasi tersebut menanyakan dana koperasi raib dan kemana larinya. Sementara ada dugaan Kepala Sekolah yang juga sebagai ketua pengurus Koperasi hingga kini belum tahu keberadaannya, memastikan dana koperasi tersebut dugunakan untuk usaha lain yang anggotanya tidak tahu. Sehingga keuntungan dari usaha yang seharusnya hak anggota kini diabaikan.

Menurut beberapa guru SDN Kadung Mangu 3  yang ditemui  Warta Nusantara (WN) Kamis (25/09) beberapa hari yang lalu menjelaskan, Keuntungan koperasi yang seharusnya untuk tunjangan pada hari Raya Idhul fitri yang lalu tidak ada sama sekali, sedangkan sebelumnya dana itu ada, sebagai ungkapan bahwa anggota berhak menerima keuntungan dari perputaran modal yang digunakan untuk usaha Koperasi. Maka pada saat tutup tahun ada Rapat anggota Tahunan (RAT) , dan tiap lebaran maupun tutup buku anggota mendapat hasil keuntungan dari usaha, yaitu mendapat tunjangan hari raya (THR). Namun untuk Hari Raya Idhul Fitri  2 bulan yang lalu , tidak ada sama sekali” jelasnya.

“Sehingga untuk menanyakan hasil keuntungan kepada ketua koperasi dan sekaligus kepala sekolah dan sebagai pimpinan kami , selalu mengelak apabila kami tanyakan untuk hal ini. Maka koperasi kalau bisa dibubarkan saja, mengingat itu uang angggota semuanya dipotong gaji kami untuk iuran koperasi tiap bulannya” terangnya.

Sampai berita ini diturunkan Kepala sekolah SDN Kadungmangu 3 tidak berada ditempat, karena beberapa kali WN mendatangi kantor SDN Kadungmangu 3 Kepala Sekolahnya  tidak ada, untuk itulah kami tanyakan kepada para guru untuk konfirmasi dan menayakan keberadaan Kepala Sekolah yang diketahui bernama Ny. Ayu Lestari.

Ada dugaan dana koperasi ada kemungkinan habis atau digunakan usaha diluar sepengatahuan para anggota, karena menurut beberapa anggota yang terdiri para guru dana tersebut sampai miliaran rupiah, dan selama itu pula anggota selalu menanyakan soal dana tersebut kepala koperasi selalu mengelak. ( Wanto/Rozi)